Friday, 30 September 2022

BERAKHIR KETIKA MASIH ADA CINTA

 

BERAKHIR KETIKA MASIH ADA CINTA

Karya: Hardianto

 

Memiliki teman kerja yang baik adalah sebuah keinginan setiap orang. Suasana tempat kerja menjadi nyaman dan tidak membosankan. Itulah yang dirasakan Haru di tempat kerjanya. Setelah dia memiliki teman kerja yang menarik dan nyaman di kantornya. Semua berawal dari hadirnya karyawati baru di perusahaanya.

Dihari pertama karyawati  bekerja di perusahaan tempat Haru bekerja. Waktu telah menunjukan pukul 10.15 WIB, tamu yang ditunggu semua karyawan telah tiba. Datanglah serombongan pengantar karyawati pindahan itu. Haru dan teman- teman selaku tuan rumah menyambut hangat kedatangan tamu itu.

Prosesi serah terima karyawati baru itu berjalan  hangat penuh rasa kekeluargaan, hingga pada saatnya sang karyawati baru tersebut memperkenalkan diri. “ Assalamu’alaikum hadirin semua, nama saya Bunga. Saya lahir pada tahun 1988, di kota ini juga” semua mata tertuju pada dirinya, Bunga meneruskan perkenalan dirinya.

Haru bergumam “ emm dia cantik juga ya!” tatap matanya tak lepas dari wajah bunga,  meski bunga tak menyadari ada yang terus menatapnya. Waktu terus berjalan, sudah waktunya bunga berjabatan tangan dengan Bos dan semua karyawan. Satu persatu Bunga menyalami orang yang ada di ruangan itu. Giliranpun  tiba, saatnya Bunga berjabat tangan dengan Haru. Dengan sedikit tersipu malu Bunga berjabatan tangan dengan Haru. “ Hai, namaku Bunga,,,” dan  Harupun menjawab  “aku Haru, senang berkenalan denganmu” tanpa sadar tangan Haru terus menggenggam erat tangan Bunga. Sampai tersadar beberapa pasang mata memperhatikan hal itu.

Keesokan harinya Bunga masuk kantor lebih awal, maklum saja dia karyawan baru di perusahaan ini. Dia harus menunjukan dedikasi yang tinggi kepada Bos. Haru berangkat lebih siang dari pada Bunga. Seperti biasa, setiap datang di pagi hari budaya di kantor kita adalah berjabat tangan kepada semua yang ada, untuk mempererat hubungan antar karyawan. Haru mendatangi Bunga yang duduknya kebetulan tak jauh darinya. “ Hai Bunga, apa kabar” bunga menjawab dengan tersipu malu “ hai juga mas, kabar baik….Mas Haru  sehat?”  Haru menjawab pertanyaan Bunga dengan penuh semangat. “ sehat dong, ceria pula nih! “  “Cie cieeee ceria nih” dengan sok akrab bunga berkementar.

Haru dan bunga sangat cepat akrab, mereka saling bercengkrama di sela- sela kerjanya. Tidak ada lagi rasa canggung pada mereka berdua. Mereka sering terlihat bersama dalam bekerja ataupun di saat waktu luang. Tak segan bunga membantu menyelesaikan pekerjaan Haru apabila melihatnya  dalam kesulitan, begitu juga sebaliknya. Mereka semakin akrab, tak sekedar teman kerja. Ada kedekatan diantara mereka. Meskipun mereka sama- sama telah memiliki pendamping hidup. Mereka tak sadar, telah terjebak dalam kisah terlarang.

            Semalaman Haru susah tidur, dia memiliki kabar gembira tentang karirnya dalam perusahaan. Dia akan diangkat menjadi karyawan tetap, sebab selama ini hanya sebagai karyawan magang. Pagi itu tiba, Haru sengaja berangkat lebih awal untuk menjadi orang pertama yang bertemu Bunga.  Haru menunggu di ruang kantor itu, berharap segera bertemu dengan Bunga teman specialnya. Yang di tunggupun tiba, Bunga memasuki ruang kantor, dengan cepat Haru menarik tangan Bunga, mengajak berjabat tangan dan memeluknya erat, sambil berbisik   “terimakasih Bunga”. Bunga hanya terdiam, seakan tak percaya yang dilakukan Haru padanya. Tak lupa Haru mencium kening Bunga, dan menatap matanya dalam- dalam sebagai ungkapan suka citanya. Bungapun tak menolak perlakuan Haru, hanya  diam tersipu malu.

Semua telah terjadi, spontan dan mengalir begitu saja.  Entah disengaja ataupun tidak semua berlangsung tanpa suatu rencana. Mungkin indah dirasa oleh Haru, tapi tak tahu apa yang dirasakan oleh Bunga. Mungkinkah bahagia atau malah marah? Ekpresi wajahnya tak terlihat maknanya.  Haru tak peduli, yang dia tau sekedar mengekspresikan apa yang dia rasa dan nyatanya Bungapun tak pernah menolaknya.

Tak berusaha memendam rasa yang ada di dalam hati. Sebab memendam rasa dihati lebih menyakiti diri. Hati Haru semakin terpaut pada Bunga. Meski dia tau hal tersebut tak bisa untuk dilanjutkan. Semua adalah hal terlarang,  tak pantas untuk di lanjutkan. Akhiri semua adalah jalan terbaik. Sebelum semua terlambat dan berakhir dengan kenestapaan. Berpisan tanpa saling menyakiti, meski hatinya masih terpaut pada Bunga pujaan hati. #cerpencinta #cerpen #cerpencerpen

MELATI CINTAKU

MELATI CINTAKU 

Cinta adalah sebuah rasa di hati, yang bisa dirasakan bagi yang mengalaminya. Cinta itu nyata adanya kadang bisa membuat kita menangis, tertawa, marah dan kadang kecewa.

Begitu pula yang zaky rasakan saat itu. Ada rasa kangen apabila tak melihat wajah Melati, ada yang hilang apabila tak melihat chat di halaman Facebook ataupun bbmnya. Zaky sering merasa gundah apabila satu hari saja tak mendengar kabar dari Melati.

Rasa gundah, kangen sudah semakin membuncah di ubun- ubunnya. Hingga Zaky mengajak sang pujaan hatinya untuk bertemu di kota hujan tempat tinggalnya. Dengan rasa rindu yang menggunung Zaky berangkat menuju kota hujan. Perjalanan dari kota Zaky ke kota hujan dirasakan begitu lama. Tak sabar zaky ingin sampai disana, terbayang merona wajah sang pujaan hati akan menyambutnya.

Dipagi yang cerah itu, bus yang di tumpangi Zaky sampai di terminal Baranangsiang. Dengan penuh semangat Zaky menuju toilet di pojok terminal untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Dengan wajah berseri- seri Zaky menuju depan terminal, untuk menunggu sang Melati pujaan hati. Di tatapnya setiap angkutan kota yang berhenti, berharap sang Melati pujaan hati datang. Beberapa angkutan sudah berlalu, tak ada Melati turun menghampiri. Resah, gundah berkecamuk di dalam hati, Hingga ada angkutan kota yang berhenti beberapa meter darinya dan menurunkan sesosok perempuan berambut panjang, dengan rambut basah nan berseri- seri.

Jantung Zaky berdebar keras, seakan tak percaya sosok yang menghapirinya. Dengan sedikit gematar Zaky berkata “ Hai nda” panggilan sayang Zaky kepada Melati. Dengan senyum manis Melatipun menjawab sapaan Zaky, “ hai mas, sudah dari tadi? “ Lalu Melatipun mengajak Zaky untuk naik Angkutan kota mencari Hotel tempat Zaky akan menginap. Kebetulan di angkutan kota cukup sepi, hanya ada Zaky, melati dan sopir, sehingga dengan leluasa Zaky bisa menikmati setiap jengkal paras cantik pujaan hatinya. Sampai- sampai Melati tersipu malu dibuatnya. “ Udah mas, jangan memandangiku terus, aku jadi malu ikh”, dengan logat Sundanya. Namun Zaky tetap menatap wajahnya, seakan akan menelan wajah cantik itu.

“Berhenti depan mang!” ucap melati kepada sopir angkutan. “ Kita sudah sampai mas” melati mengajak Zaky turun dari angkutan kota itu. Dengan beriringan Zaky dan Melati menuju loby hotel untuk Chek in dan sekaligus memesan makanan untuk sarapan pagi. Merekapun bergegas menuju kamar yang telah disewanya.

Sesampai di dalam kamar, Zaky menggenggam erat tangan Melati. Mereka saling bertatapan melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Zaky dan Melatipun makan bersama, di selangi dengan canda tawa. Pertemuan itu terasa begitu istimewa bagi Zaky, karena selama ini Zaky dan Melati hanya berhubungan lewat bbm dan telephon saja.

Waktu itu terasa begitu indah, detik- detik jam begitu cepat berputar. Rasanya masih belum puas mereka bercerita tentang hidup mereka masing- masing, hingga suara handphon Melati berbunyi. Dia mulai sibuk dengan bbmnya. Tak berapa lama Melatipun berpamitan. “ Mas saya pulang dulu ya, nanti saya kabari lagi. Dengan sedikit cemberut Zakypun menjawab “ jangan dulu pulang dong, aku kan masih ingin bersamamu!” Namun melati bersikeras untuk mengahiri pertemuan itu.

Dengan wajah lesu Zaky mengantar sampai pinggir jalan, menunggu sang pujaan hati naik angkutan kota menuju rumahnya. Di tatapnya dalam- dalam orang yang sangat dia cinta. Seakan enggan melepaskan dia pergi untuk kembali kerumahnya. “ Mas saya pulang dulu ya” Melati berpamitan bergegas  naik ke angkutan itu. Dengan wajah lesu Zaky melambaikan tangan tanda perpisahan.

Dengan langkah gontai, Zaky kembali ke kamar. Diendus setiap jengkal kamar, seakan berusaha menemukan Melati di sisi lain kamar itu. Harum parfumnya masih terasa. Zaky mengabil handphon di meja. Berusaha di lihatnya lagi foto- foto Melati yang sempat di ambilnya. “ ndaaaaaa….aku masih kangen” gumamnya memanggil nama kesayangan Melati.

Hari kian cepat berlalu,,Zaky masih berharap ada pertemuan kembali setelah itu. Zakypun mengirim pesan bbm,  “nda, aku masih kangen nih, bisakah kita ketemu lagi? Pesannya tak kunjung di balas, Zaky masih berpikir positif, mungkin Melati masih sibuk dengan keluarganya. Tanpa putus asa Zaky mengirim bbm berulang kali, namun jawaban yang dia harap tak kunjung di dapat.

Waktu semakin sore, sudah waktunya Zaky harus keluar dari hotel, untuk sekedar mengelilingi indanya kota hujan. Namun Zaky sudah tidak bersemangat lagi seperti pagi tadi. Tak ada lagi penyemangat untuknya bertahan lama di kota hujan.

Dia berpikir untuk segera pulang ke kotanya. Tiada lagi yang dapat dia lakukan. Yang dia cinta telah kembali kepada keluarganya, Melati hanya memberikan kebahagiaan sesaat saja. Keindahan yang dilalui bersama Melati  hanya sekejap mata.

Zaky masih tetap berharap bisa mencintai Melati, meskipun dia tau terlalu berat halangan untuk bisa saling memilikinya. Cinta Zaky tulus pada Melati, meski kadang merasakan merana dan sakit hati karenanya.

 

 

Karya : Hardianto

Friday, 16 September 2022

Puisi Hari ini


DIMANA KEADILANMU


wahai penguasa kerajaan

entah apa dalam pikiran

berbeda dengan yang kau ucapkan 

disaat kau tebarkan janji- janji manis penuh harapan


kini nyata dirasa 

semua kian menghipit menyudutkanku dalam kesempitan

disaat semua harga kau naikan 

tak selaras lagi  dengan bayaran keringat darahku


dimana keadilan yang kau janjikan tuan

yang berpangku tangan kau sejahterakan

yang bercucuran keringat darah kau abaikan

dimana keadilanmu tuan


terbalik sudah semua

mereka yang berpangku tangan kau sejahterakan

mereka kau jejali dengan segala kenikmatan

berbanding terbalik dengan kami


kami kering tuan

keringatku  daraku mengalir habis tuan

tuk melunasi segala beban kehidupan

tak ada lagi keringan bagi kami...semua berat dirasa



Monday, 12 September 2022

MENGADU PADA SANG KUASA



Sepertiga malam….

Wajah keriput itu tersungkur diatas sajadah

Bersujud di atas tanah beralaskan sajadah lusuh

Mengadu pada sang Kuasa


Tetes air mata membasahi pipi keriputnya

Untaian doa terucap lirih dari bibirnya

Hanya kepasrahan yang ada didada

Tak ada sebutirpun kesombongan pada sang kuasa


Kepasrahan jelas terlihat di matanya

Harapkan ampunan atas dosa- dosa

Impikan syurga selayaknya para syuhada

Berbekal iman dan taqwa didada.


TEMAN KARENA IMAN







Bagaikan permata di celahan kaca

Kita sukar untuk dipisahkan

Padamu Alloh hanya aku harapkan

Semoga kami tak salah jalan

Semoga disyurga nanti kita bertemu

Kekasih sejati adalah teman yang berbudi

Bukan teman tentang keduniaan

Bukan juga teman karena keterpakasaan

Tapi adalah teman karena alloh

Di pertemukan karena keimanan

Bukan sekedar teman indahnya dunia

Tapi teman sampai ke syurgawi


SETIAP INSAN AKAN MERASA



Semua manusia akan alami

Saat perpisahan terakhir 

Dengan dunia fana di tinggalkan

hanya amalan yang di bawa


semua berakhir

kemewahan dunia kan ditinggalkan

hanya ketaqwaan yang jadi senjata

tuk bekal kita pulang kesana


sekujur badan berselimut putih

mengharap pada anak atau suami atau istri

tapi tak mungkinlah amalan dikirimkan

hanya pasrah yang bisa kita lakukan dengan segala amalan kita


TEMAN SEJATI


Ku mencari teman yang sejati

Tuk temani perjuangan suci

Berada di jalan Illahi

Bukan sekedar teman dikala sunyi tanpa arti


Teman di jalan Allohlah yang kucari

Berjuang tegakan kalimatulloh

Demi tegaknya dien Alloh

Teman yang selalu membuatku iri karena amalanya


Ya itulah teman sejati

Yang selalu ingatkan ketika kita khilaf

Untuk selalu kembali pada jalan Alloh

Dan mengingkari perbuatan dosa.


MENYERAH PASRAH

MENYERAH  PASRAH Maafkan aku… Harus menyerah dan pasrah Sekian lama kucoba untuk bertahan, namun aku semakin lara Maafkan aku…. Harus menyer...